Dampak Kemarau Panjang: 500 KK di Desa Riam Durian Kobar Alami Krisis Air Bersih Selama 4 Bulan
KOTAWARINGIN BARAT — Bencana kekeringan akibat kemarau panjang yang tak kunjung usai kian memperparah krisis air bersih di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Sedikitnya 500 kepala keluarga (KK) yang bermukim di Desa Riam Durian, Kecamatan Kotawaringin Lama, kini hidup dalam kepungan krisis pasokan air selama lebih dari empat bulan berturut-turut. Guna memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti memasak dan minum, warga praktis menggantungkan harapan pada pasokan bantuan air bersih yang didistribusikan ke wilayah pemukiman mereka.
Kondisi darurat ini mendorong seluruh lapisan masyarakat beserta perangkat desa setempat untuk mengambil tindakan nyata di lapangan. Jalur distribusi bantuan air kini diatur sedemikian rupa agar dapat dirasakan secara adil dan merata hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT). Bantuan air yang diangkut menggunakan armada tangki dipindahkan ke sejumlah titik penampungan umum guna menghindari penumpukan antrean dan memudahkan akses warga.
Mengenai mekanisme pembagian air bantuan di lapangan, Kepala Desa Riam Durian, Yusuf, mengungkapkan bahwa respon cepat telah dilakukan bersama para pengurus lingkungan.
"Alhamdulillah, sekarang air sudah bisa disalurkan kepada warga. Setiap RT berinisiatif mengambil dan menempatkan air di beberapa penampungan agar lebih mudah dibagikan," kata Yusuf, Jumat (16/10/2026).
Kemarau yang melanda wilayah Kalimantan Tengah dalam beberapa bulan terakhir memang menekan ketersediaan air tanah secara drastis. Banyak sumber air tradisional warga di Desa Riam Durian yang mengalami penyusutan debit parah hingga mengering total. Kondisi ini memaksa warga mencari cara agar dapur mereka tetap bisa ngebul dan kebutuhan kebersihan harian terpenuhi.
Sebelum bergantung penuh pada bantuan tangki air luar, pihak pemerintah desa sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai langkah antisipasi dan solusi jangka pendek telah diupayakan, termasuk menggali potensi air tanah baru di lingkungan setempat.
Yusuf membeberkan bahwa pihak pemdes telah meluncurkan program pembuat penampungan air baru guna merespons ancaman kekeringan tersebut.
"Upaya mencari sumber air alternatif sebenarnya telah dilakukan pemerintah desa melalui pembangunan sumur gali dan sumur bor," ujar Yusuf.
Sayangnya, ikhtiar pembuatan sumur gali maupun sumur bor baru tersebut tidak serta-merta mengakhiri cobaan yang dialami warga Riam Durian. Kendala geologis dan kualitas air tanah di daerah tersebut menjadi penghalang utama. Air yang berhasil diangkat dari dalam tanah melalui sumur-sumur baru itu kerap memiliki kualitas yang jauh dari standar kesehatan. Banyak di antaranya mengeluarkan bau yang menyengat serta berwarna keruh, sehingga sangat berisiko dan tidak layak apabila dikonsumsi oleh warga.
Faktor kualitas air yang tak memenuhi syarat kesehatan inilah yang pada akhirnya membuat bantuan air bersih eksternal menjadi satu-satunya tumpuan utama bagi 500 KK di desa tersebut. Jika bantuan terlambat datang, kegiatan domestik warga dipastikan lumpuh.
Meski penanganan darurat melalui tangki bantuan terus berjalan, solusi jangka panjang tetap menjadi fokus utama yang dinantikan seluruh warga Desa Riam Durian. Pemerintah daerah bersama dinas terkait saat ini sedang menggenjot pengerjaan infrastruktur pipa air bersih yang terhubung langsung ke permukiman warga.
Jaringan pipa air bersih ini digadang-gadang sebagai jawaban permanen atas masalah kekeringan tahunan yang kerap membayangi wilayah Kotawaringin Lama saat musim kemarau tiba. Pengerjaan proyek tersebut kini sedang dalam tahap krusial di lapangan.
Terkait progres pembangunan infrastruktur vital tersebut, Yusuf menjelaskan bahwa proses instalasi masih terus berjalan.
"Di tengah upaya penanganan darurat tersebut, pembangunan jaringan air bersih di Desa Riam Durian masih berjalan," ujar Yusuf.
Ia menambahkan bahwa kendala utama belum mengalirnya air bersih secara mandiri ke rumah-rumah warga adalah karena proyek fisik belum sepenuhnya rampung dipasang. Pihak kontraktor dan petugas di lapangan masih menyelesaikan tahapan penyambungan pipa utama.
Menurut Yusuf, pengerjaan saat ini berada pada tahap pemasangan pipa sehingga jaringan tersebut belum dapat digunakan oleh masyarakat.
Masyarakat dan pemerintah desa berharap agar akselerasi pembangunan jaringan pipa air ini dapat dirampungkan dalam waktu dekat. Apabila proyek ini selesai tepat waktu dan beroperasi secara optimal, maka ratusan warga Desa Riam Durian tidak perlu lagi cemas setiap kali musim kemarau melanda.
Harapan besar bertumpu pada selesainya proyek jaringan air tersebut demi menjaga kemandirian akses air masyarakat di masa mendatang.
"Dengan begitu, sekitar 500 KK di Riam Durian tidak terus-menerus bergantung pada bantuan ketika musim kemarau berkepanjangan melanda," ujar Yusuf.
Krisis air di Kotawaringin Barat ini menambah panjang daftar wilayah di Kalimantan Tengah yang terdampak efek musim kemarau. Sinergi antara pemerintah daerah, relawan, dan partisipasi aktif warga di tingkat RT menjadi kunci penting dalam menjaga ketersediaan pasokan air harian hingga pipa air bersih siap mengalirkan kehidupan baru bagi warga Riam Durian.
