Viral Kabar 3 Pasien Meninggal Akibat Asap Karhutla Kayong Utara, Ini Penjelasan Dinkes
PONTIANAK — Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat bersama Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kayong Utara menggelar langkah verifikasi ketat untuk menguji kebenaran kabar meninggalnya tiga orang pasien yang diduga berkaitan erat dengan paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penelusuran menyeluruh difokuskan pada rekam medis di fasilitas pelayanan kesehatan setempat guna memastikan apakah kepulan asap pekat menjadi faktor pemicu utama atas meninggalnya para pasien tersebut.
Otoritas kesehatan bergerak cepat melakukan investigasi meny menyusul hebohnya kabar mengenai kematian tiga pasien di Kabupaten Kayong Utara. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Erna Yulianti, mengungkapkan bahwa instansinya belum menerima laporan resmi secara berjenjang dari daerah terkait insiden fatal yang dihubungkan langsung dengan bencana kabut asap tersebut.
Langkah penelusuran lapangan kini dijalankan secara intensif guna mengumpulkan bukti klinis yang sahih. Erna menegaskan bahwa pengumpulan data primer ditujukan langsung ke fasilitas medis yang merawat para pasien. Penelusuran dilakukan untuk mendapatkan informasi berdasarkan data dan keterangan dari fasilitas pelayanan kesehatan yang menangani pasien, termasuk RSUD Sultan Muhammad Jamaludin di Kayong Utara.
Penyelidikan beruntun ini dipicu oleh riak unggahan di media sosial X melalui akun @ajeng_ap yang mendadak tular dan menyita perhatian publik. Pemilik akun yang disinyalir sebagai salah satu tenaga medis di RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I Kayong Utara membeberkan kondisi kritis perawatan pasien di tengah paparan kabut asap. Dalam narasi yang diunggahnya, diungkapkan bahwa tiga pasien yang terdiri dari seorang bayi, seorang balita, serta seorang remaja mengembuskan napas terakhir setelah didiagnosis mengidap bronkopneumonia saat mendapatkan penanganan medis.
Tenaga kesehatan tersebut juga menggambarkan nestapa warga setempat yang terpaksa menghirup udara beracun akibat karhutla yang tak kunjung padam selama berbulan-bulan. Dalam unggahannya, pemilik akun mengekspresikan keprihatinannya secara terbuka:
“Sudah berbulan-bulan kami di Kalimantan dikepung kebakaran di mana-mana. Asap mengepul tiada henti. ISPU sampai di atas 1.000, racun yang kami hirup,” tulis akun tersebut.
Merespons polemik dan kekhawatiran masyarakat yang kian meluas, pihak Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kayong Utara memberikan klarifikasi mengenai temuan di lapangan. Kepala Dinkes KB Kayong Utara, dr. Maria Fransisca Antonelly Schoggers, menegaskan bahwa dari pemantauan data harian yang dihimpun timnya, belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi bahwa pemicu kematian murni berasal dari paparan asap karhutla semata.
Dalam keterangan resminya saat merespons isu yang beredar, dr. Maria menyampaikan penjelasan awal terkait penelusuran berkas harian yang diterima oleh jajarannya:
“Kami cek dulu, sebab tidak ada laporan kematian yang masuk ke kami. Dari laporan harian yang kami kumpulkan setiap hari, tidak ada yang reported meninggal dunia,” ujar Maria, Senin (21/9).
Lebih jauh, dr. Maria memaparkan sisi klinis terkait penanganan infeksi saluran pernapasan di wilayah terdampak karhutla. Ia menggarisbawahi pentingnya membedakan antara penyakit penyerta dengan faktor tunggal penyebab kematian pada pasien. Pihaknya menegaskan bahwa kondisi bencana asap memicu peningkatan komplikasi, tetapi tidak serta-merta berdiri tunggal sebagai pemicu fatalitas.
“Kematian yang disebabkan secara langsung ISPA sebagai penyebab tunggal tidak ada,” tegasnya saat memberikan klarifikasi.
Meski verifikasi medis masih berlangsung, kondisi riil kualitas udara di Kabupaten Kayong Utara memang berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, konsentrasi partikulat PM2,5 di sejumlah titik sempat melambung tinggi hingga menembus angka lebih dari 310 hingga 2.000 µg/m³. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang secara konsisten bertahan di kategori berbahaya membuat pemerintah daerah terpaksa mengambil kebijakan darurat, termasuk merumahkan para siswa SD dan SMP untuk kembali menjalani proses pembelajaran dari rumah (PDR).
Dampak krisis akibat Karhutla di Kalimantan Barat kini tidak hanya mengancam kesehatan saluran pernapasan warga melalui lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan bronkopneumonia. Pasca-karhutla, ancaman krisis kesehatan turunan mulai mengintai masyarakat, mulai dari penyakit pencernaan hingga penyakit menular berbasis lingkungan.
Mengantisipasi skenario terburuk pascabencana, Dinas Kesehatan Kayong Utara terus memperketat pengawasan di seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan. Fokus perhatian kini dialihkan tidak hanya pada penanganan komplikasi paru-paru, namun juga ancaman penyakit diare akibat krisis air bersih serta potensi ledakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Pasca Karhutla kami tetap melakukan pemantauan atas kasus ISPA, juga diare karena banyak daerah kekurangan air bersih. Kami juga mulai mewaspadai DBD,” ujar dr. Sisca merinci langkah antisipasi instansinya.
Bencana karhutla yang melanda wilayah Kalimantan Barat ini memicu krisis multidimensi bagi warga tempatan. Selain ancaman penyakit pernapasan yang mengintai kelompok rentan seperti bayi, balita, dan lansia, warga di Kayong Utara kini juga dibayang-bayangi kelangkaan pasokan air bersih serta kesulitan akses kebutuhan dasar. Hingga kini, investigasi medis menyeluruh dari tim gabungan Dinkes Kalbar dan Dinkes Kayong Utara masih terus dilanjutkan untuk memberikan kepastian hukum dan informasi yang transparan kepada publik mengenai keterkaitan langsung antara angka kematian pasien dan bencana asap karhutla.
