Kalbar Deflasi 0,01 Persen pada Oktober 2026, Ini Penyebabnya
pulaupenebang.com – Provinsi Kalimantan Barat mencatat deflasi sebesar 0,01 persen secara bulanan pada Oktober 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan segar, terutama ikan dan sayuran, menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, Muh Saichudin, mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi turunnya harga sejumlah bahan pangan di pasaran.
" Dari bulan ke bulan terjadi penurunan indeks atau terjadi deflasi 0,01 persen. Untuk inflasi secara tahunan sebesar 4,17 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 3,63 persen," kata Saichudin, Senin (2/11/2026).
Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain ikan tongkol, udang basah, kangkung, sawi hijau, dan bayam. Melimpahnya pasokan sejumlah bahan pangan tersebut turut mendorong penurunan harga di pasar tradisional.
"Komoditas utama adalah ikan segar, utamanya tongkol, kangkung, sawi hijau, bayam, dan udang basah," ujarnya.
Meski secara keseluruhan mengalami deflasi, sejumlah kebutuhan pokok justru masih mencatat kenaikan harga. Komoditas tersebut meliputi daging ayam ras, cabai rawit, kacang panjang, cabai merah, ketimun, dan beras.
Perbedaan pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan di Kalimantan Barat belum sepenuhnya mereda. Penurunan harga pada beberapa komoditas segar diharapkan dapat membantu menjaga daya beli masyarakat, meskipun kenaikan harga bahan pokok lainnya tetap perlu diwaspadai.
Perkembangan harga dan ketersediaan pasokan menjadi perhatian penting untuk menjaga stabilitas pangan serta mengendalikan inflasi di Kalimantan Barat.
