Terminal Kijing Catat Arus Kargo 2,84 Juta Ton, Topang Hilirisasi di Kalbar
pulaupenebang.com – Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mencatatkan kinerja operasional yang terus berkembang hingga September 2026. Pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) itu memperkuat perannya sebagai simpul logistik untuk mendukung perdagangan, industri, dan hilirisasi di Kalimantan Barat.
Hingga September 2026, Terminal Kijing menangani 2,37 juta ton curah kering, 126 ribu ton curah cair, serta 340 ribu ton/m³ general cargo dan bag cargo. Layanan terminal juga semakin beragam setelah mulai melayani muatan petikemas sejak Juni 2026.
Selain mendukung arus barang untuk berbagai sektor industri, Terminal Kijing berperan dalam rantai pasok industri pengolahan mineral yang dikembangkan MIND ID Group di Mempawah.
Hingga September 2026, terminal tersebut telah menangani sekitar 2,54 juta ton kargo milik MIND ID Group. Jumlah itu terdiri atas 2,41 juta ton curah kering dan 103,97 ribu ton curah cair.
Kontribusi MIND ID Group juga menjadi bagian penting dari bisnis terminal. Hingga Agustus 2026, aktivitas perusahaan tersebut menyumbang sekitar 72 persen terhadap total pendapatan Terminal Kijing.
Direktur Utama PTP, Indra Hidayat Sani, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan potensi strategis Terminal Kijing dalam mendukung kebutuhan logistik industri di Kalimantan Barat.
“Terminal Kijing menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan kini menjadi kontributor terbesar bagi PTP setelah Cabang Tanjung Priok. Ini menunjukkan bahwa Kijing memiliki prospek strategis yang terus berkembang,” demikian dijelaskan Direktur Utama PTP, Indra Hidayat Sani melalui keterangan resmi diterima redaksi Mimbar Maritim, di Jakarta, hari ini Jumat (9/10/2026).
Indra mengatakan, PTP akan terus mengoptimalkan potensi terminal melalui peningkatan layanan dan kapasitas logistik, terutama untuk memenuhi kebutuhan pengembangan industri dan hilirisasi bersama MIND ID Group.
Dukung Pengembangan Industri Alumina
Peran Terminal Kijing diproyeksikan semakin penting seiring rencana pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 oleh MIND ID di Mempawah. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dengan kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun.
Jika SGAR Fase 2 beroperasi sesuai target, kapasitas produksi alumina di Mempawah bersama SGAR Fase 1 akan mencapai sekitar dua juta ton per tahun.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari penguatan rantai pasok industri aluminium nasional, mulai dari pengolahan bauksit menjadi alumina hingga produksi aluminium. Kebutuhan pengangkutan bahan baku dan hasil produksi turut membuka peluang bagi pengembangan layanan logistik Terminal Kijing.
Dari sisi fasilitas, Terminal Kijing dirancang untuk melayani kapal berukuran hingga 100.000 DWT dan memiliki kapasitas sandar simultan lebih dari 15 kapal.
Keandalan operasional didukung oleh fasilitas seperti harbour mobile crane, hopper, grab, dan bucket. PTP juga melakukan penguatan jaringan kelistrikan untuk menunjang kegiatan bongkar muat.
Konektivitas Darat Jadi Perhatian
Selain meningkatkan fasilitas pelabuhan, PTP mendorong penguatan konektivitas darat untuk memastikan kelancaran arus barang dari dan menuju Terminal Kijing.
Indra mengatakan, koordinasi telah dilakukan bersama pemerintah daerah untuk membahas pengembangan dan efektivitas infrastruktur pendukung di Kabupaten Mempawah.
“Konektivitas menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan Terminal Kijing. Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mendorong peningkatan infrastruktur jalan yang mendukung kelancaran mobilitas kendaraan logistik dari dan menuju terminal,” ujar Indra.
Ia menambahkan, Pelindo juga menginisiasi pembangunan jalan baru guna mendukung akses kendaraan barang menuju kawasan terminal. PTP turut menyampaikan kebutuhan peningkatan infrastruktur konektivitas kepada pemerintah pusat.
Menurut perusahaan, peningkatan akses jalan diperlukan agar mobilitas kendaraan logistik dapat berlangsung lebih lancar dan mendukung kontinuitas rantai pasok.
Keselamatan Pekerja Tetap Diprioritaskan
Di tengah peningkatan aktivitas operasional, PTP juga memberikan perhatian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3), termasuk saat menghadapi cuaca dan kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
“PTP berkomitmen penuh menjaga keselamatan dan kesehatan para pekerja di lapangan. Kami menyiapkan perlengkapan proteksi, termasuk masker, serta mengoptimalkan penerangan di area operasional untuk memastikan kegiatan tetap berjalan aman dan kondisi pekerja tetap terjaga,” pungkas Indra.
Branch Manager PTP Terminal Kijing, Suwanda, mengatakan peluang pengembangan layanan tidak hanya berasal dari sektor pertambangan dan pengolahan mineral. Terminal Kijing juga berpotensi melayani kebutuhan logistik industri turunan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), serta kawasan industri lain yang berkembang di Kalimantan Barat.
PTP menyatakan akan terus meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan untuk menjaga kelancaran rantai pasok, memperkuat konektivitas antarpulau dan internasional, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Melalui pengembangan fasilitas, diversifikasi layanan, penguatan konektivitas, serta komitmen terhadap keselamatan dan keandalan operasional, PTP terus mengoptimalkan Terminal Kijing sebagai salah satu simpul logistik strategis sekaligus bagian penting dari ekosistem industri dan penggerak pertumbuhan ekonomi khususnya di Kalimantan Barat,” ujar Suwanda.
