Sabtu, 07 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

BMKG Catat 615 Titik Panas di Papua Selatan, Tertinggi di Indonesia

✍️ Rani 🕒 07 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Papua Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia. Berdasarkan pemantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Sabtu (7/11/2026), wilayah tersebut tercatat memiliki 615 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Papua Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia. Berdasarkan pemantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Sabtu (7/11/2026), wilayah tersebut tercatat memiliki 615 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Foto: istimewa

pulaupenebang.com – Papua Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia. Berdasarkan pemantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Sabtu (7/11/2026), wilayah tersebut tercatat memiliki 615 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Jumlah itu melampaui Kalimantan Timur yang berada di urutan kedua dengan 233 titik, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 225 titik.

Prakirawan BMKG, Sentia, menyampaikan bahwa konsentrasi titik panas tertinggi saat ini terpantau di Papua Selatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi cuaca panas dan kering.

BMKG menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Namun, temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemeriksaan langsung tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

El Nino dan IOD Positif Jadi Perhatian

Kondisi cuaca kering di sejumlah wilayah Indonesia juga dipengaruhi fenomena iklim global. BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih berlangsung pada awal November 2026.

Kedua fenomena tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Dampaknya, kondisi kering dapat bertahan dan meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.

Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) BMKG juga menunjukkan 543 titik pengamatan berada dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem panjang.

Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang turun secara lokal akibat dinamika atmosfer regional.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah agar meningkatkan langkah pencegahan karhutla.

Masyarakat diimbau tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di kawasan hutan, semak belukar, dan lahan gambut yang rentan terbakar.

Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat pemantauan titik panas dan segera memeriksa wilayah yang terindikasi mengalami kebakaran.

Informasi cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal komunikasi resmi lembaga tersebut.

Pemantauan dan penanganan sejak dini diperlukan agar potensi kebakaran dapat segera diketahui dan tidak berkembang menjadi bencana yang berdampak luas terhadap lingkungan maupun masyarakat.

R
RaniEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update