Sabtu, 07 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Desa Sendoyan Sambas Bangkitkan Kopi Liberika dan Hilirisasi Lada

✍️ Rani 🕒 07 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Dari kebun integrasi liberika dan lada wujudkan pertanian berkelanjutan
Dari kebun integrasi liberika dan lada wujudkan pertanian berkelanjutan Foto: istimewa

pulaupenebang.com – Desa Sendoyan, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mengembangkan model pertanian terintegrasi untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Melalui pengembangan kopi liberika, pengolahan lada, hingga peternakan kambing, masyarakat berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus membangun pertanian berkelanjutan.

Gerakan tersebut melibatkan kelompok tani, koperasi, pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan sejumlah mitra, termasuk PT PLN. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pengolahan hasil, pemasaran, serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.

Ketua Koperasi Srikandi Jaya Sambas sekaligus Pembina Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera, Juliansyah, mengatakan upaya tersebut berangkat dari keinginan mengoptimalkan potensi perkebunan desa yang selama ini belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi petani.

Inisiatif pengembangan kopi liberika dan hilirisasi lada itu digerakkan Dedi A. Khansa. Bersama masyarakat, ia mendorong penguatan kelompok tani dan koperasi agar petani tidak hanya menjual hasil perkebunan sebagai bahan mentah.

"Potensi desa ini sangat besar. Sayang kalau tidak kita tangkap dan kembangkan bersama. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi petani yang menghasilkan bahan baku, tetapi juga mampu mengolah, memasarkan, dan menikmati nilai tambah dari hasil perkebunannya," ujar Juliansyah di Sambas, akhir Oktober 2026.

Menghidupkan Kembali Kopi Liberika

Salah satu gerakan yang dikembangkan adalah penanaman kopi liberika sejak 2023. Inisiatif ini bertujuan mengembalikan komoditas kopi yang pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat kawasan Batu Layar, Desa Sendoyan.

Sejarah perkebunan kopi di wilayah tersebut telah berlangsung sejak sekitar 1979. Pada masa itu, kopi menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat bersama komoditas karet dan lada.

Namun, perubahan pilihan komoditas dan berkembangnya perkebunan kelapa sawit membuat sebagian petani meninggalkan tanaman kopi. Luas perkebunan yang tersisa pun menyusut hingga hanya beberapa hektare.

Melihat kondisi tersebut, Dedi bersama masyarakat kembali mendorong pengembangan kopi liberika. Jenis kopi ini dinilai sesuai dengan karakteristik lahan dataran rendah, termasuk kawasan dengan tanah gambut yang banyak dijumpai di Kalimantan Barat.

Gerakan tersebut dimulai melalui Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera sebagai kelompok percontohan. Petani didorong menyiapkan bibit, memperluas areal tanam, dan memperbaiki pola budidaya.

Sejak diinisiasi pada 2023, pengembangan kopi liberika di Sendoyan dilaporkan telah mencapai lebih dari 100 hektare dengan melibatkan petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani.

Pengembangannya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada akhir 2024, petani memperoleh bantuan bibit kopi liberika unggul bersertifikat dari Kementerian Pertanian melalui dukungan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat serta BPTP Pontianak.

Pemerintah Kabupaten Sambas, Pemerintah Desa Sendoyan, penyuluh pertanian, PLN UID Kalimantan Barat, dan Bank Indonesia Kalimantan Barat juga turut memberikan dukungan melalui pendampingan serta penguatan sarana pascapanen.

Dari sisi pemasaran, petani mulai menjalin kerja sama dengan pelaku usaha kopi di Pontianak, salah satunya 101 Coffee House. Kerja sama tersebut diharapkan membantu membuka akses pasar sekaligus mendorong peningkatan kualitas produk.

Lada Batu Layar Didorong Masuk Pasar Lebih Luas

Selain mengembangkan kopi, masyarakat Sendoyan juga memperkuat pengolahan lada agar komoditas unggulan tersebut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Desa Sendoyan memiliki potensi lahan budidaya lada sekitar 213 hektare dengan kemampuan produksi mencapai 200 ton lada biji kering per tahun, berdasarkan data perencanaan pengembangan pertanian setempat.

Selama ini, sebagian hasil perkebunan masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut membuat peluang memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan belum sepenuhnya dinikmati petani.

Upaya pengolahan lada mulai dirintis sejak 2018 melalui pendampingan Tim Penggerak PKK, pemerintah desa, dan Pemerintah Kabupaten Sambas.

Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi usaha bersama dengan identitas produk Lada Batu Layar. Produk yang dihasilkan antara lain lada bubuk hitam dan putih dalam kemasan. Inovasi juga dilakukan melalui pengembangan makanan berbahan lada, seperti tanak lada dan soal lada hitam.

Penguatan usaha dilanjutkan melalui pembentukan Koperasi Srikandi Jaya Sambas. Koperasi tersebut kini memiliki 17 anggota dan bermitra dengan sekitar 320 petani lada yang tergabung dalam 16 kelompok tani.

Lada Batu Layar juga telah ditetapkan sebagai produk unggulan Kabupaten Sambas melalui surat keputusan bupati.

Dukungan infrastruktur diberikan melalui pembangunan Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Lada Sambas di Desa Sendoyan dengan total pagu anggaran hampir Rp6 miliar. Fasilitas tersebut diharapkan memperkuat kapasitas pengolahan, produksi, dan pemasaran, termasuk membuka peluang menjangkau pasar ekspor.

"Kami ingin Sendoyan menjadi salah satu sentra hilirisasi lada bubuk di Kalimantan Barat. Potensi bahan bakunya ada, petaninya ada, kelembagaan koperasinya sudah terbentuk. Sekarang bagaimana seluruh kekuatan ini terus kita satukan untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar," kata Juliansyah.

PLN Dukung Pengembangan Pertanian Terintegrasi

Pengembangan ekonomi perkebunan Sendoyan juga mendapat dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN.

Pada 2023, melalui PLN UP3B Sistem Kalimantan Barat, perusahaan tersebut memberikan bantuan peralatan produksi lada bubuk kepada Koperasi Srikandi Jaya Sambas. Bantuan meliputi mesin pengolahan serta perangkat pengemasan menggunakan botol dan sachet.

Dukungan itu membantu mengatasi keterbatasan peralatan yang sebelumnya menjadi kendala dalam meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.

Kolaborasi kemudian berlanjut melalui pembinaan dan pengembangan usaha bersama PLN UIP3B Kalimantan dan PLN UPT Pontianak.

Salah satu program terbaru adalah dukungan terhadap pembangunan kebun percontohan pertanian terintegrasi seluas satu hektare. Kawasan tersebut dirancang untuk menggabungkan budidaya kopi liberika, lada, dan peternakan kambing dalam satu sistem produksi.

Konsep pertanian terintegrasi memungkinkan kegiatan perkebunan dan peternakan saling mendukung. Kotoran kambing diolah menjadi pupuk organik, baik dalam bentuk kompos padat maupun biourin cair, untuk dimanfaatkan kembali pada tanaman.

Penggunaan mikoriza juga diperkenalkan guna membantu akar tanaman menyerap unsur hara dan air. Sementara itu, teknologi irigasi tetes atau drip irrigation diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas petani, Koperasi Srikandi Jaya Sambas menggelar pelatihan pembuatan mikoriza dan kompos pada 19–20 Juni 2026 di 101 Coffee House. Kegiatan tersebut menghadirkan dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura sebagai narasumber.

Peserta yang terdiri atas anggota koperasi dan petani lada serta kopi mengikuti pembelajaran teori dan praktik. Mereka juga melakukan kunjungan lapangan ke Wahyudi Farm untuk mempelajari budidaya kambing.

Dalam sistem yang dirancang, lada menjadi komoditas utama, sedangkan kopi liberika berperan sebagai tanaman pendamping sekaligus sumber diversifikasi pendapatan. Peternakan kambing melengkapi siklus produksi melalui pemanfaatan limbah ternak sebagai bahan pupuk organik.

Asisten Manajer Keuangan dan Umum PLN UPT Pontianak, Riyan Permana Putra, yang mewakili PLN UIP3B Kalimantan, mengatakan dukungan terhadap koperasi merupakan kelanjutan dari program pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya.

"Ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya dari PLN UPT Pontianak untuk pengembangan koperasi," ujarnya.

Ia berharap pelatihan dan kebun percontohan dapat memperkuat kemampuan petani dalam mengembangkan usaha dari sektor produksi hingga pengolahan, sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.

Kolaborasi Sendoyan Raih Pengakuan

Upaya pemberdayaan ekonomi melalui Koperasi Srikandi Jaya Sambas juga memperoleh sejumlah penghargaan.

Pada 18 September 2025, program pendampingan PLN UIP3B Kalimantan melalui PLN UPT Pontianak bersama koperasi tersebut meraih penghargaan Platinum kategori Food and Agriculture CSR tingkat Asia dalam ajang Asian Impact di Malaysia.

Koperasi juga memperoleh penghargaan Platinum dalam Indonesia CSR Award dari Corporate Forum for CSR Development (CFCD), serta penghargaan The Best Local Hero on Social Responsibility Program TJSL dari PLN UIB Kalimantan pada Desember 2025.

Pada 2025, koperasi turut menerima penghargaan Platinum Bina Mitra UMKM Award atas pengembangan produk lada bubuk Lada Batu Layar.

Sementara itu, pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2026, Dedi A. Khansa menerima penghargaan dari Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan atas dedikasinya dalam mengembangkan komoditas perkebunan daerah.

Dedi menjadi satu dari lima penerima penghargaan yang diusulkan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya menggerakkan petani dalam pengembangan kopi liberika dan peningkatan nilai tambah lada.

Rangkaian pengembangan di Sendoyan memperlihatkan upaya masyarakat membangun ekonomi desa melalui penguatan potensi lokal. Kopi liberika yang pernah menjadi komoditas penting mulai ditanam kembali, sedangkan lada tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk dengan identitas daerah.

Ke depan, kebun percontohan satu hektare diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi petani sebelum pola pertanian terintegrasi diterapkan lebih luas.

Keberhasilan program tersebut akan ditentukan oleh peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, pemanfaatan pupuk organik, pengelolaan air, serta kemampuan koperasi memperkuat jalur pengolahan dan pemasaran.

Bagi masyarakat Sendoyan, pengembangan kopi liberika dan hilirisasi lada bukan semata-mata upaya meningkatkan produksi perkebunan. Lebih dari itu, gerakan tersebut menjadi langkah membangun kemandirian ekonomi desa, memperkuat posisi petani, dan membuka peluang bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor usaha yang menjanjikan.

R
RaniEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update