Karantina Kalbar Temukan OPTK pada Padi dan Daun Bawang di 14 Kabupaten/Kota
pulaupenebang.com - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat menemukan sejumlah Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) pada tanaman padi dan daun bawang berdasarkan hasil surveilans di 14 kabupaten/kota.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena keberadaan OPTK berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan ketahanan pangan di Kalimantan Barat.
Kepala Karantina Kalimantan Barat Ferdi mengatakan hasil pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan karantina sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi terkini persebaran OPTK di wilayah Kalbar.
"Data dari pemantauan ini menjadi fondasi utama dalam menyusun regulasi di tingkat pusat guna menunjang tugas pokok dan fungsi karantina," kata Kepala Karantina Kalimantan Barat Ferdi di Pontianak, Kamis.
Ferdi menjelaskan surveilans dilakukan untuk memastikan data mengenai keberadaan, persebaran, dan status OPTK di seluruh wilayah Kalimantan Barat tetap sesuai dengan kondisi terbaru.
Menurutnya, temuan OPTK memiliki dua makna. Di satu sisi, hasil tersebut menunjukkan pemantauan berjalan dan mampu mendeteksi keberadaan organisme pengganggu. Namun, di sisi lain, temuan tersebut juga menunjukkan adanya potensi OPTK untuk masuk, bertahan, dan menyebar di wilayah Kalbar.
Risiko tersebut kemudian perlu dianalisis berdasarkan kemampuan organisme pengganggu untuk masuk, menetap, serta menyebar. Karena itu, koordinasi lintas pihak dinilai penting untuk menjaga tanaman sekaligus keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat.
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Pertanian
Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Suyatno mengatakan perubahan iklim turut menjadi tantangan dalam menjaga produktivitas pertanian.
Perubahan pola musim dapat memengaruhi kondisi lingkungan yang kemudian berpotensi meningkatkan gangguan terhadap tanaman pertanian.
“Sifat musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi berada di bawah normal, dengan durasi yang lebih panjang tiga dasarian dari kondisi biasanya. Artinya, kemarau tahun ini berlangsung jauh lebih lama,” jelas Suyatno.
Surveilans tersebut dilakukan pada Juni hingga September 2026 dengan melibatkan 42 personel. Dari kegiatan pemantauan itu, tim menemukan beberapa OPTK dari kelompok nematoda pada tanaman padi dan daun bawang.
Nematoda Perlu Diwaspadai
Guru Besar Entomologi Universitas Tanjungpura Edy Syahputra menjelaskan nematoda parasit tumbuhan dapat mengganggu jaringan dan proses fisiologis tanaman.
Keberadaan organisme tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan tanaman yang kemudian dapat berdampak terhadap sektor ekonomi pertanian.
“Karena hama ini sudah ditemukan di Kalbar, berarti mereka mampu hidup di sini. Sekarang tinggal menunggu waktu saja bagi mereka untuk berkembang biak lebih banyak jika kondisi lingkungan mendukung,” kata Edy.
Ia menambahkan kondisi suhu dan kelembapan di Kalimantan Barat saat ini mendukung ekologi nematoda. Oleh sebab itu, hasil surveilans perlu dilanjutkan melalui analisis risiko dan pemantauan secara berkelanjutan.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan persebaran OPTK sekaligus mengantisipasi potensi gangguan terhadap tanaman pangan di Kalimantan Barat
