Kualitas Udara Kotawaringin Barat Memburuk: Titik Panas Meningkat, Jadwal Penerbangan Terganggu
Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mengalami penurunan drastis secara signifikan menyusul lonjakan kemunculan titik panas atau hotspot. Berdasarkan laporan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), akumulasi titik api terpantau meningkat tajam dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Dampak buruk dari fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini tidak hanya memicu kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan Pangkalan Bun dan sekitarnya, tetapi juga mulai melumpuhkan sektor transportasi publik, terutama jadwal penerbangan di Bandara Iskandar.
Intensitas kabut asap yang pekat membuat jarak pandang horizontal di sekitar wilayah bandara merosot jauh di bawah standar normal operasional penerbangan. Sejumlah maskapai penerbangan terpaksa menunda keberangkatan maupun kedatangan demi mengutamakan faktor keselamatan penumpang di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Pihak otoritas bandara bersama instansi terkait terus memantau pergerakan arah angin dan ketebalan kabut asap secara berkala untuk mengambil keputusan taktis terkait status operasional penerbangan harian.
Buruknya kualitas udara di lapangan turut dirasakan langsung oleh masyarakat setempat dalam aktivitas harian mereka. Salah seorang warga Kecamatan Pasir Panjang bernama Yuni menceritakan bahwa situasi pagi hari ini terasa jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi cuaca dalam beberapa hari sebelumnya yang sempat memperlihatkan langit cerah.
"Pagi ini asap kembali pekat. Padahal beberapa hari terakhir sudah bisa menghirup udara segar dan matahari juga terlihat," ungkap Yuni, Kamis (5/11/2026).
Perubahan cuaca yang terjadi secara fluktuatif ini membuat warga harus kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna meminimalisir risiko gangguan kesehatan. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, konsentrasi partikel polutan menunjukkan angka yang cukup tinggi dan mengkhawatirkan bagi kesehatan pernapasan. Parameter polusi udara tersebut mencatatkan angka mencapai 295,4 mikrogram per meter kubik, sebuah ambang batas yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.
Angka polusi yang cukup tinggi ini dinilai sangat berbahaya, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, para lansia, serta warga yang telah memiliki riwayat penyakit gangguan pernapasan kronis seperti asma atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tim medis dan instansi kesehatan setempat mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak serta selalu menggunakan pelindung diri standar.
Sementara itu, upaya penanggulangan dan pemadaman titik-titik api di lapangan terus digalakkan oleh satuan tugas gabungan dari berbagai unsur penegak hukum, Manggala Agni, TNI, Polri, serta relawan pemadam kebakaran. Kendala utama yang sering dihadapi oleh tim darat di lapangan adalah aksesibilitas menuju lokasi titik panas yang sulit dijangkau serta ketersediaan sumber air yang terbatas di area lahan yang terbakar. Operasi pemadaman lewat udara (water bombing) juga sangat bergantung pada kondisi jarak pandang vertikal dan horizontal yang aman bagi pilot helikopter.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus menghimbau masyarakat luas agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar yang menjadi pemicu utama meluasnya karhutla di wilayah Kalimantan Tengah. Koordinasi lintas sektoral terus diperkuat guna mengantisipasi kemungkinan perburukan cuaca serta memastikan kesiapan posko siaga darurat bencana asap di tingkat kabupaten hingga kecamatan. Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi cuaca terkini dan mematuhi seluruh instruksi keselamatan yang dikeluarkan oleh instansi berwenang demi meminimalkan dampak buruk dari bencana kabut asap ini.
