Bidan Sean Usulkan Satu Desa Satu Damkar untuk Cegah Karhutla
pulaupenebang.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Siti Aseanti atau yang dikenal sebagai Bidan Sean mengusulkan penyediaan satu unit pemadam kebakaran (Damkar) di setiap desa sebagai langkah memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Bidan Sean, penanganan karhutla perlu diarahkan pada upaya jangka panjang, bukan hanya memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Kesiapan sarana di tingkat desa dinilai penting agar kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.
“Tidak sekadar memadamkan api lalu selesai, tetapi perlu adanya penanggulangan jangka pendek, jangka menengah, bahkan kalau perlu permanen. Kita sudah mengetahui siklusnya sama setiap tahun, yakni kemarau panjang, kebakaran hutan, dan krisis air bersih,” kata Bidan Sean saat dihubungi dari Sampit, Senin.
Ia menilai, keberadaan unit pemadam di desa dapat membantu mempercepat respons, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam dari daerah lain. Keterbatasan akses jalan di sejumlah desa menjadi salah satu alasan perlunya sarana pemadaman yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Kalau satu ambulans satu desa bisa, maka kita sekarang belajar dari pengalaman tahun ini, perlu adanya satu desa satu Damkar,” ujarnya.
Selain mendorong penguatan sarana pemadaman, Bidan Sean meminta pemerintah pusat mempertimbangkan penetapan karhutla di Kalimantan sebagai bencana nasional. Ia menyoroti kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan, korban jiwa dari kalangan relawan maupun masyarakat terdampak, serta ancaman terhadap kawasan konservasi.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatiannya adalah Taman Nasional Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang menurutnya turut terdampak kebakaran.
“Ini sudah lebih dari satu bulan, bahkan berbulan-bulan. Sudah ada korban jiwa, baik relawan maupun masyarakat yang terdampak asap. Bahkan, Taman Nasional Tanjung Puting turut terbakar. Lalu menunggu apalagi kalau tidak segera ditetapkan menjadi bencana nasional?” ucapnya.
Bidan Sean mengatakan dirinya terus memantau perkembangan karhutla di Kalimantan Tengah sejak menerima informasi kebakaran pada Agustus 2026. Bersama timnya, ia juga menyalurkan masker, vitamin, dan sembako kepada masyarakat serta relawan yang terlibat dalam pemadaman.
Ia menyebut para relawan menghadapi beban kerja berat karena harus bertugas hingga 24 jam, sementara titik kebakaran baru masih bermunculan meskipun api di lokasi sebelumnya telah dipadamkan.
Karena itu, menurut Bidan Sean, upaya penanganan perlu dilengkapi dengan persediaan air bersih untuk menghadapi kemarau panjang dan peralatan pemadam yang memadai di wilayah rawan kebakaran.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah melalui peninjauan langsung ke lapangan. Dengan melihat kondisi secara langsung, pemerintah diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, termasuk sarana pemadaman dan pasokan air bersih.
Di tengah meluasnya karhutla, Bidan Sean mengajak seluruh pihak bekerja sama untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, menurutnya, tetap diperlukan, sementara penanganan darurat dan bantuan bagi warga terdampak harus berjalan.
“Yang paling penting adalah turun langsung. Kita harus tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat. Saat ini, mencari siapa yang salah bukan lagi prioritas utama, karena karhutla sudah meluas. Yang perlu dilakukan adalah bahu-membahu meringankan beban masyarakat terdampak,” ujarnya.
