Cegah Kebakaran Gambut, BRIN dan YKAN Kembangkan Peta Kerawanan di Kalbar
pulaupenebang.com – Upaya pemulihan ekosistem gambut di Kalimantan Barat terus diperkuat melalui kolaborasi riset antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menghadapi perubahan iklim, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar gambut.
Kolaborasi yang telah berlangsung sejak 2023 itu kembali diperkuat melalui penandatanganan perjanjian kerja sama di Bogor, Kamis (29/10/2026).
Kemitraan kedua lembaga tidak hanya berfokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil penelitian sebagai dasar penyusunan kebijakan. Salah satu hasil yang ditargetkan adalah dokumen policy brief berisi rekomendasi penanganan gambut, mulai dari pencegahan hingga pemulihan setelah kebakaran.
Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat, mengatakan penguatan kolaborasi tersebut penting di tengah meningkatnya risiko karhutla akibat kondisi musim kering tahun ini.
Menurutnya, hasil kajian ilmiah diharapkan dapat membantu pemerintah menentukan langkah penanganan yang lebih tepat dan efektif.
"Hasil kajian tersebut diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam upaya pemulihan dan pencegahan karhutla di masa mendatang," ujar Asep, Jumat (30/10/2026).
Perhatian terhadap perlindungan ekosistem gambut juga semakin besar. Salah satu langkah pemerintah adalah pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) pada 2026.
Direktur Program Terestrial YKAN, Ruslandi, menilai tantangan dalam menjaga ekosistem gambut semakin kompleks. Degradasi lahan, kebakaran berulang, serta perubahan iklim yang memengaruhi pola musim membutuhkan penanganan dengan dukungan penelitian dan kerja sama lintas sektor.
"Tantangan yang dihadapi ekosistem gambut saat ini sangat kompleks dan hanya dapat diselesaikan melalui landasan ilmiah yang kuat. Karena itu, kolaborasi antara lembaga penelitian, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan," kata Ruslandi.
Ia menjelaskan, gambut memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon dan pengatur tata air. Ekosistem ini juga menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada kawasan sekitarnya.
Karena itu, upaya restorasi tidak cukup hanya berorientasi pada pemulihan lingkungan. Program tersebut juga perlu memperhatikan keberlanjutan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan warga.
Perkuat Sistem Pencegahan Kebakaran
Selama periode kerja sama 2023–2026, BRIN dan YKAN telah menjalankan sejumlah kegiatan penelitian dan pendampingan. Di antaranya kajian teknis dan sosial ekonomi mengenai optimalisasi sekat kanal, evaluasi dampak pembasahan gambut terhadap emisi gas rumah kaca, serta penerapan praktik pertanian berkelanjutan.
Kedua lembaga juga telah menyusun sejumlah publikasi ilmiah sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan mengenai pengelolaan gambut.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Wahyu Catur Adinugroho, mengatakan kerja sama ke depan akan lebih diarahkan pada penguatan pengendalian kebakaran gambut, terutama melalui langkah pencegahan.
Program yang disiapkan mencakup peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah, pengembangan peta kerawanan kebakaran, serta penguatan sistem peringatan dini atau early warning system.
Selain itu, penelitian juga akan diarahkan pada pengembangan faktor emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kebakaran.
Melalui pendekatan berbasis sains tersebut, BRIN dan YKAN berharap pengelolaan gambut di Kalimantan Barat dapat dilakukan secara lebih terukur. Kolaborasi ini sekaligus diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan ekosistem gambut dan mengurangi risiko karhutla di Indonesia.
