Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Fenomena Alam Langka Menggemparkan Palangka Raya: Hujan Disertai Butiran Es Guyur Permukiman Warga

✍️ Imam Hermawan 🕒 31 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Hujan yang mengguyur kawasan Jalan Mendawai, Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya, Jumat (30/10/2026)
Hujan yang mengguyur kawasan Jalan Mendawai, Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya, Jumat (30/10/2026) Foto: istimewa

Warga Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dikejutkan oleh peristiwa meteorologis yang sangat langka dan tidak biasa pada Jumat sore (30/10/2026). Hujan lebat yang biasanya turun secara normal tiba-tiba berubah menjadi fenomena alam yang menegangkan setelah disertai oleh jatuhnya butiran-butiran es. Kejadian yang melanda kawasan Jalan Mendawai, Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya ini sontak menyita perhatian publik serta menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat setempat yang belum pernah menyaksikan kejadian serupa dalam kurun waktu puluhan tahun.

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun di lapangan, peristiwa alam ini bermula ketika awan gelap mendadak menyelimuti sebagian besar langit Kota Palangka Raya menjelang sore hari. Intensitas hujan yang turun mulanya tampak biasa, namun beberapa saat kemudian, suara benturan keras mulai terdengar menghantam atap rumah serta perlengkapan berkendara warga. Situasi tersebut seketika memicu keterkejutan yang luar biasa bagi masyarakat yang sedang beraktivitas di luar ruangan maupun mereka yang berada di dalam rumah.

Salah seorang warga setempat yang bermukim di kawasan Jalan Mendawai RT 04 RW VI, Rini, menceritakan detik-detik menegangkan saat fenomena tersebut berlangsung di dekatnya. Ia mengaku sempat merasakan kepanikan sesaat karena mengira ada pihak yang dengan sengaja melempari benda keras ke arahnya. "Saya kaget kemarin itu di atas helm saya serasa dilempari batu. Ternyata hujan disertai dengan serpihan es batu," ungkapnya pada Sabtu (31/10/2026). Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling mengejutkan baginya selama menjalani kehidupan sehari-hari di ibu kota provinsi Kalimantan Tengah tersebut.

Lebih lanjut, Rini mengungkapkan bahwa peristiwa jatuhnya butiran es dari langit ini merupakan sebuah pengalaman hidup yang sama sekali belum pernah ia jumpai sebelumnya. Mengingat usianya yang telah melampaui empat dekade bermukim di Kota Palangka Raya, ia merasa takjub sekaligus heran dengan anomali cuaca yang terjadi secara tiba-tiba tersebut. Selama lebih dari 40 tahun tinggal di Kota Palangka Raya, ia mengaku baru kali ini menyaksikan secara langsung hujan yang turun bersama butiran es.

Menanggapi kepanikan dan antusiasme warga yang luar biasa akibat fenomena langka ini, pihak kelurahan setempat langsung bergerak cepat untuk memberikan imbauan persuasif. Lurah Palangka, Dawid, turut membenarkan adanya laporan mengenai peristiwa hujan lebat yang membawa serpihan es batu di wilayah teritorialnya, khususnya di titik-titik padat penduduk seperti kawasan Jalan Mendawai. Guna meredam keresahan yang mulai menyebar di tengah masyarakat, ia secara khusus mengeluarkan imbauan agar warga tidak mudah terprovokasi oleh spekulasi yang tidak berdasar. "Saya minta masyarakat jangan panik dengan fenomena ini dan tunggu informasi resmi dari pihak terkait seperti BMKG," pungkasnya.

Secara ilmiah, kemunculan hujan es atau yang sering disebut sebagai hail dalam ilmu meteorologi merupakan sebuah fenomena cuaca ekstrem yang lumrah terjadi akibat dinamika atmosfer lokal. Fenomena ini umumnya dipicu oleh keberadaan awan Cumulonimbus berukuran besar yang menjulang tinggi hingga ke lapisan atmosfer atas yang bersuhu sangat dingin. Di dalam awan tersebut, uap air yang membeku membentuk gumpalan es yang kemudian jatuh ke bumi karena tidak mampu lagi tertahan oleh arus udara ke atas di dalam awan. Meskipun tergolong aman karena sifatnya yang sangat lokal dan berdurasi singkat, masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan seperti angin kencang dan sambaran petir yang sering kali menyertai pertumbuhan awan konvektif tersebut di penghujung musim pancaroba ini.

IH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update