Guru Asal Sintang Perkenalkan Tenun Ikat Kalbar kepada Siswa di Amerika Serikat
pulaupenebang.com – Tenun ikat khas Sintang menarik perhatian siswa di Indiana Senior High School, Pennsylvania, Amerika Serikat. Kain tradisional asal Kalimantan Barat itu diperkenalkan oleh Jatu Rahmawati, guru SMK Negeri 1 Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, dalam kegiatan berbagi budaya dan pendidikan Indonesia.
Jatu merupakan satu dari empat pendidik Indonesia yang terpilih mengikuti program Fulbright Distinguished Awards in Teaching (DAI) 2026 di Indiana University of Pennsylvania (IUP), Amerika Serikat.
Dalam salah satu rangkaian program tersebut, Jatu mendapat kesempatan menjadi guru tamu untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat Indonesia kepada para siswa. Materi yang disampaikan mencakup sistem pendidikan, aturan sekolah, mata uang rupiah, hingga budaya dan kearifan lokal dari daerah asalnya.
Tenun ikat Sintang menjadi salah satu materi yang menarik perhatian siswa. Jatu memperkenalkan proses pembuatan kain tradisional tersebut, termasuk penggunaan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan.
Melalui penjelasan itu, para siswa diajak mengenal kekayaan budaya Kalimantan Barat sekaligus memahami bahwa setiap daerah memiliki tradisi dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lima Kelas dalam Sehari
Kegiatan berbagi budaya tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Jatu. Dalam satu hari, ia harus menyampaikan presentasi di lima kelas, yakni pada periode pembelajaran kedua, ketiga, keempat, keenam, dan ketujuh.
Setiap sesi berlangsung sekitar 38 menit, dengan jeda kurang lebih lima menit sebelum pelajaran berikutnya dimulai.
“Rasanya seperti kembali menjadi guru setelah sekian lama tidak berdiri di depan kelas. Bedanya, kali ini saya menjadi guru tamu yang memperkenalkan Indonesia,” cerita Jatu mengenai pengalamannya.
Dengan waktu yang terbatas, Jatu memilih materi yang mudah dipahami sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak hanya menjelaskan budaya Indonesia, tetapi juga membandingkan kebiasaan di sekolah serta sistem pembelajaran di kedua negara.
Suasana kelas berlangsung interaktif. Para siswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang mungkin biasa ditemui di Indonesia, tetapi terasa baru bagi mereka.
Salah satu topik yang memancing rasa ingin tahu siswa adalah aturan sekolah di Indonesia, termasuk ketentuan mengenai gaya rambut siswa laki-laki. Selain itu, mata uang rupiah dengan beragam nominal juga menjadi bagian dari pengenalan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Membawa Budaya Sintang ke Dunia
Bagi Jatu, kesempatan tersebut bukan sekadar pengalaman mengajar di luar negeri. Kegiatan itu juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah asalnya kepada generasi muda dari negara lain.
Melalui tenun ikat, Jatu menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya berasal dari tradisi yang dikenal secara nasional, tetapi juga dari warisan lokal yang tumbuh dan berkembang di daerah.
Pengenalan budaya melalui lingkungan sekolah menjadi salah satu cara untuk membangun pemahaman lintas negara. Para siswa dapat mengenal kehidupan masyarakat lain melalui cerita langsung, tradisi, sistem pendidikan, dan kebiasaan sehari-hari.
Pengalaman Jatu dalam program Fulbright DAI 2026 sekaligus memperlihatkan peran pendidik dalam memperluas wawasan internasional, sembari membawa cerita tentang budaya dan pendidikan Indonesia ke ruang kelas di Amerika Serikat.
