Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Lonjakan Kasus ISPA Akibat Karhutla di Kalteng Mengkhawatirkan, Pemerintah Siagakan Faskes di Berbagai Wilayah

✍️ Imam Hermawan 🕒 27 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Kabut asap karhutla di Palangka Raya.
Kabut asap karhutla di Palangka Raya. Foto: REUTERS

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Tengah memicu krisis kesehatan masyarakat yang signifikan. Tingkat polusi udara yang kian pekat dan dikategorikan berbahaya membuat angka penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengalami lonjakan drastis. Menghadapi ancaman krisis lingkungan ini, pemerintah daerah bersama instansi kesehatan setempat bergerak cepat dengan menyiagakan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) di lini terdepan demi mengantisipasi ledakan pasien gangguan pernapasan.

Gelombang penderita keluhan pernapasan ini tercatat tersebar di berbagai kabupaten dan kota terdampak parah, dengan Kota Palangka Raya serta Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi dua wilayah penyumbang angka kasus tertinggi. Akumulasi puluhan ribu warga dilaporkan mendatangi klinik, puskesmas, hingga rumah sakit umum daerah akibat keluhan iritasi tenggorokan, batuk, flu, hingga sesak napas. Situasi ini menuntut kesigapan ekstra dari tenaga medis yang harus bekerja ekstra keras melayani lonjakan kunjungan pasien setiap harinya di tengah kepungan kabut asap yang belum juga mereda.

Berdasarkan data epidemiologi dari instansi kesehatan setempat, tren kenaikan kasus penyakit berat seperti pneumonia menjadi salah satu fokus perhatian utama tenaga medis. Laporan mingguan menunjukkan adanya eskalasi kasus infeksi paru-paru basah tersebut yang bergerak naik dari puluhan kasus pada pekan sebelumnya, atau mencatatkan persentase kenaikan yang cukup signifikan hingga mendekati 10 persen dalam kurun waktu satu minggu saja. Selain pneumonia, jenis gangguan kesehatan lain seperti selesma (common cold) serta radang tenggorokan akut juga mendominasi ribuan catatan medis harian di berbagai posko kesehatan darurat.

Lonjakan penderita penyakit pernapasan ini tidak terlepas dari buruknya kualitas udara luar ruangan akibat partikel polutan berbahaya hasil pembakaran lahan gambut dan hutan. Paparan asap pekat yang dihirup oleh masyarakat secara terus-menerus setiap hari sangat berisiko menurunkan kapasitas fungsi paru-paru, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu yang memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid saluran pernapasan. Kondisi geografis serta tiupan angin turut memperluas sebaran kabut asap hingga memasuki kawasan permukiman padat penduduk di perkotaan.

Sebagai langkah mitigasi darurat, fasilitas kesehatan di seluruh wilayah rawan kini diinstruksikan untuk membuka layanan siaga khusus penanganan dampak karhutla. Pasokan logistik medis, mulai dari ketersediaan tabung oksigen, alat konsentrator oksigen, obat-obatan generik saluran pernapasan, vitamin pendukung daya tahan tubuh, hingga distribusi masker pelindung berkualitas tinggi, telah disalurkan secara masif ke posko-posko kesehatan. Peningkatan kapasitas pelayanan ini diharapkan mampu mencegah perburukan kondisi klinis pada pasien yang datang berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pemerintah pusat melalui kementerian terkait bersama unsur penanggulangan bencana daerah juga terus mengoordinasikan operasi pemadaman titik api di darat maupun melalui udara (water bombing) untuk menekan laju kebakaran. Upaya pemadaman ini dinilai sebagai kunci utama penyelesaian masalah, sebab penanganan dari sisi medis saja tidak akan efektif apabila sumber polusi udara berupa kebakaran lahan belum sepenuhnya berhasil dipadamkan dan dikendalikan. Kolaborasi lintas sektor dikerahkan demi mempercepat proses pembasahan lahan gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau panjang.

Di samping kesiapan infrastruktur medis dan tim penanggulangan bencana, unsur pimpinan daerah dan tenaga penyuluh kesehatan tak henti-hentinya mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesadaran proteksi diri. Warga diminta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, serta diwajibkan mengenakan masker berstandar kesehatan yang rapat guna menyaring partikel debu halus dan gas beracun apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah. Langkah pencegahan mandiri ini dinilai krusial guna menekan risiko paparan langsung terhadap organ pernapasan.

Masyarakat juga dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi air putih guna membantu menetralisir dehidrasi ringan akibat udara panas serta membantu membersihkan saluran pencernaan dan pernapasan dari partikel mikro. Pihak dinas kesehatan setempat membuka posko pengaduan serta layanan informasi cepat tanggap agar warga yang merasakan gejala awal gangguan pernapasan seperti batuk persisten atau nyeri dada bisa segera mendapatkan penanganan medis dini sebelum berlanjut menjadi infeksi paru yang membahayakan nyawa.

Kasus darurat kabut asap karhutla di Kalimantan Tengah ini menjadi pengingat penting akan perlunya mitigasi bencana yang berkelanjutan serta penguatan sistem ketahanan kesehatan regional dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan bencana ekologis. Kesiapsiagaan faskes yang optimal, dukungan logistik yang memadai, serta disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan lingkungan diharapkan mampu meminimalisasi dampak buruk lanjutan dari bencana asap tahunan tersebut.

IH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update