Meskipun Diguyur Hujan, 26 Hotspot di Kobar dan TN Tanjung Puting Masih Mengancam
KOTAWARINGIN BARAT — Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah ternyata belum sepenuhnya berakhir. Walaupun intensitas hujan terpantau mulai turun di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), situasi di lapangan tetap menuntut kewaspadaan tinggi dari berbagai pihak terkait. Berdasarkan hasil pemantauan ketat dalam kurun waktu 24 jam terakhir per Kamis (29/10), tercatat masih ada sebanyak 26 titik panas atau hotspot yang terdeteksi aktif mengepung sejumlah wilayah di Kobar.
Yang paling mencemaskan, beberapa dari puluhan titik panas tersebut terpantau berada di dalam kawasan konservasi penting, yakni area Taman Nasional (TN) Tanjung Puting. Wilayah yang dikenal sebagai salah satu habitat utama orang utan dan paru-paru dunia ini menjadi sorotan khusus karena karakteristik ekosistemnya yang rentan terhadap api, terutama pada musim kemarau panjang yang meninggalkan sisa-sisa vegetasi kering di atas lahan gambut.
Penanganan Intensif di Tengah Perubahan Cuaca
Meskipun curah hujan sempat turun dan membantu meredakan sebagian besar bara api di permukaan, potensi kemunculan kembali api di dalam tanah gambut atau sisa tunggul kayu masih sangat tinggi. Situasi ini membuat tim satuan tugas penanggulangan karhutla tidak boleh menurunkan tingkat kewaspadaan mereka. Penanganan dan penyisiran di lapangan terus dilakukan secara intensif untuk memastikan bahwa titik-titik yang berpotensi memunculkan api kembali dapat dikendalikan sepenuhnya sebelum membesar.
Keberadaan sisa-sisa bara api yang tersembunyi di dalam tanah gambut atau tunggul-tunggul kayu sering kali menjadi pemicu terselubung. Walaupun di permukaan tampak padam atau basah karena diguyur hujan, panas di dalam struktur kayu atau gambut dapat bertahan lama dan kembali berkobar apabila mendapatkan suplai oksigen dan tiupan angin kering.
Tantangan Pemantauan Kualitas Udara dan Dampak Asap
Di sisi lain, turunnya hujan di beberapa wilayah Kotawaringin Barat memang sempat menghadirkan udara yang terasa lebih segar bagi masyarakat setempat. Namun, para ahli dan petugas pengawas lingkungan mengingatkan bahwa kondisi fisik udara yang sekilas tampak lebih baik tersebut belum tentu merepresentasikan penurunan tingkat polusi secara menyeluruh.
Ketiadaan data pendukung yang memadai di lapangan sering kali menjadi kendala tersendiri dalam menyimpulkan kualitas udara secara akurat. Sebagaimana ditegaskan oleh pihak berwenang dalam catatan pemantauannya: "Ketiadaan data tersebut membuat kondisi udara yang terasa lebih segar belum bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan bahwa tingkat pencemaran akibat asap telah menurun secara keseluruhan,".
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya kehati-hatian publik agar tidak langsung berasumsi bahwa ancaman polusi udara akibat asap karhutla telah lenyap sepenuhnya hanya karena langit terlihat lebih cerah atau turun hujan sesaat. Partikel mikroskopis sisa pembakaran masih berisiko tertinggal di atmosfer dan berdampak pada kesehatan pernapasan warga.
Langkah Antisipasi Jangka Panjang
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus mengimbau masyarakat, korporasi, serta pemilik lahan di sekitar kawasan rawan untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat guna mengantisipasi dinamika cuaca ekstrem yang kerap berubah-ubah di wilayah Kalimantan Tengah.
Dengan masih terdeteksinya 26 hotspot di Kobar dan kawasan TN Tanjung Puting, sinergi antara Masyarakat Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta partisipasi aktif masyarakat amat dibutuhkan. Pengawasan ketat di titik-titik rawan kebakaran akan terus dilangsungkan sampai kondisi cuaca benar-benar berada pada fase aman dan potensi kemunculan titik api dapat ditekan hingga titik nol.
