Misteri Jatuhnya Heli Mi-17 di Seruyan: Kotak Hitam Masih Dicari, Penyebab Kecelakaan Belum Terungkap
Tim SAR gabungan hingga kini masih bekerja keras untuk menemukan kotak hitam (black box) dari helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat (AD) yang mengalami kecelakaan fatal di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Insiden tragis yang menimpa burung besi milik Penerbad (Penerbangan Angkatan Darat) dengan nomor registrasi HA-5235 ini terjadi di tengah misi mulia penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga detik ini, misteri utama di balik jatuhnya helikopter tersebut masih belum dapat disimpulkan secara pasti karena instrumen perekam penerbangan penting itu belum berhasil dievakuasi dari dasar perairan.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita memberikan keterangan langsung terkait kendala penyelidikan tersebut. Menurutnya, aparat dan tim petugas di lapangan masih memfokuskan upaya pencarian terhadap kotak hitam guna meneliti faktor-faktor teknis yang memicu insiden nahas itu.
"Penyebab jatuhnya helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat (AD) di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah," ujar pihak berwenang menggambarkan urgensi penemuan instrumen tersebut sebagai kunci utama investigasi.
Selain tantangan teknis pencarian black box, operasi penyelamatan di perairan Seruyan juga dihadapkan pada medan berat karena sebagian puing dan korban diduga masih berada di dalam bangkai pesawat yang tenggelam. Jenderal TNI Tandyo Budi Revita turut membeberkan kondisi terkini di lapangan, termasuk nasib prajurit yang menjadi korban dalam musibah ini. Dalam keterangannya, beliau menyebutkan bahwa salah satu prajurit yang gugur dan belum sepenuhnya dievakuasi dari bangkai pesawat adalah Sertu Anumerta Heri Prasetyo.
"Sersan Satu Heri yang saat ini mungkin masih di dalam pesawat," terang Tandyo saat menjelaskan situasi evakuasi korban yang terjebak di dalam badan helikopter yang tenggelam.
Tragedi yang merenggut nyawa prajurit-prajurit terbaik bangsa ini meninggalkan duka mendalam bagi institusi militer maupun keluarga yang ditinggalkan. Berdasarkan data resmi TNI AD, terdapat tiga prajurit yang gugur dalam menjalankan misi kemanusiaan penanganan karhutla di wilayah Kalimantan Tengah tersebut. Para kesatria bangsa yang gugur dalam tugas mulia ini masing-masing diidentifikasi sebagai Letkol CPN (Anm) Dudi Firmansyah, Kapten CPN (Anm) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anm) Heri Prasetyo.
Para almarhum diketahui telah mendedikasikan waktu dan tenaga mereka di medan operasi dalam jangka waktu yang cukup panjang.
"Almarhum tiga orang ini sudah hampir dua bulan di sana," tutur Jenderal Tandyo menguraikan dedikasi serta lamanya penugasan para prajurit tersebut dalam mengawal penanggulangan karhutla di Kalimantan.
Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga besar TNI AD, pihak Markas Besar Angkatan Darat juga memaparkan skala besar operasi pencegahan bencana asap dan kebakaran yang sedang dilakukan di pulau Borneo. Pemerintah bersama jajaran militer mengerahkan daya dukung maksimal demi memadamkan titik-titik api yang mengancam keselamatan ekosistem dan kesehatan masyarakat setempat. Operasi pemadaman lewat udara (water bombing) ini melibatkan armada helikopter yang bekerja siang dan malam secara intensif.
"Sekarang kita ngerahkan kurang lebih, khusus angkatan darat, 18.989 personel di Kalimantan ini, jadi sangat besar kita, pemerintah menangani karhutla di sana sangat serius," pungkas Jenderal Tandyo menegaskan komitmen negara dalam menuntaskan darurat lingkungan tersebut.
Besarnya pengerahan personel serta armada penerbangan menunjukkan betapa beratnya tantangan geografis yang dihadapi oleh satuan tugas di lapangan. Ribuan prajurit diterjunkan tidak hanya untuk melakukan operasi darat, tetapi juga menyokong ratusan sortie penerbangan demi menebarkan jutaan liter air ke titik kebakaran hutan. Namun, risiko tinggi di sektor penerbangan tak bisa dihindarkan, sebagaimana dibuktikan oleh insiden yang menimpa helikopter Mi-17 di perairan Seruyan ini.
Hingga saat ini, proses investigasi lanjutan masih terus berjalan secara paralel dengan kelanjutan operasi SAR. Pihak militer bersama instansi terkait seperti Basarnas dan unsur maritim setempat berkomitmen untuk segera menuntaskan pengangkatan sisa bangkai helikopter. Keberhasilan menemukan black box nantinya diharapkan mampu memberikan titik terang secara transparan mengenai kronologi serta pemicu utama kegagalan terbang, sehingga langkah evaluasi komprehensif dapat diterapkan guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Sementara itu, para prajurit lain yang selamat dari musibah tersebut telah diamankan untuk mendapatkan pemulihan fisik dan mental sebelum dipulangkan kembali ke satuan masing-masing di Pulau Jawa.
